Nama : Renny
Sulistyowati
Kelas : PBS 2B
NIM : 175231051
Smartphone sebagai Pengganti Orang Tua
Di
zaman yang serba canggih saat ini, banyak sekali alat-alat elektronik yang
tercipta untuk memudahkan segala kegiatan manusia. Dari motor, mobil, mesin cuci,
setrika listrik, dan lain-lain. Selain alat penunjang sehari-hari, ada juga
alat untuk memudahkan manusia dalam berkomunikasi jarak jauh. Alat ini bernama
smartphone.
Smartphone
merupakan benda elektronik yang bisa dikatakan wajib untuk dimiliki semua
orang. Karena dengan smartphone, kita tidak hanya bisa berkomunikasi dengan
keluarga, tapi juga dengan teman-teman kita baik yang dekat maupun yang jauh.
Kita bisa berkomunikasi dengan mereka melalui SMS, telpon, chatting, email
maupun media Sosial.
Untuk
anak-anak yang masih berusia di bawah 14 tahun, sebenarnya penggunaan
smartphone sangat tidak dianjurkan, karena akan berdampak buruk bagi tumbuh
kembang anak. Tetapi terkadang orang tua mereka sendirilah yang membelikannya
dengan tujuan agar anak mereka tidak ketinggalan zaman.
Fenomena
ini paling mudah kita temui pada anak yang berasal dari keluarga berada dimana
smartphone bukan lagi menjadi barang mewah bagi mereka. Sebagian lagi anak
memang difasilitasi oleh orang tuanya untuk sibuk bermain smartphone
agar orang tua lebih leluasa beraktivitas tanpa perlu terus-terusan mendampingi
anaknya.
Anak-anak
yang sedang berada dalam masa serba ingin tahu juga akan senang jika
dihadiahkan gadget oleh orang tuanya. Apalagi dengan perkembangan teknologi
informasi, anak-anak sekarang ini rasanya jauh lebih “sadar teknologi”
dibanding generasi-generasi dahulu.
Saya perhatikan anak-anak sekarang bisa dengan mudah mengakses aplikasi dalam
gadget yang baru didapatinya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menguasai
fitur-fitur gadget tersebut.
Memang
di satu sisi, ada beberapa manfaat bagi anak yang sejak dini sudah berkenalan
dengan gadget. Paling tidak sejak awal anak sudah familiar dengan teknologi.
Kemudian beberapa vendor sudah membuat aplikasi game khusus untuk mengasah daya
pikir anak Seperti: puzzle, game kata, dan game sejenis. Anak-anak yang senang
bermain gadget juga akan betah di rumah, ini adalah keuntungan buat orang tua
yang sibuk. Jika anak berada di rumah, orang tua akan lebih leluasa melakukan
kegiatannya. Beberapa orang tua juga membelikan anak-anaknya handphone, agar
mudah memonitor keberadaan anak mereka. Di daerah-daerah yang rawan terjadi
penculikan anak, membiasakan anak untuk berkomunikasi dengan HP akan cukup
membantu orang tua mengawasi anak-anaknya. Tapi di sisi lain,
pemakaian gadget sejak usia dini juga dapat membawa dampak negatif bagi
anak-anak, baik bahaya yang langsung kelihatan maupun bahaya yang dampaknya
jangka panjang.
Berikut
ini dampak buruk penggunaan smartphone bagi anak usia dini. Pertama adalah susah
tidur, bagi anak yang sering
bermain game akan lebih susah tidur, karena mereka asyik dengan game yang
mereka mainkan. Mereka akan lebih sering tidur larut malam, padahal tidur
begadang sangat tidak bagus untuk anak usia dini. Damapak kedua adalah kurang gerak, tidak hanya anak-anak,
bahkan orang dewasa pun jika lebih sering berinteraksi dengan smartphone-nya,
maka dia akan kurang gerak. Mereka akan lebih banyak duduk atau tiduran
daripada beraktivitas menggerakkan badan. Ketiga
adalah gangguan mata,
hal ini tidak diragukan lagi. Sinar yang terpancar
dari layar smartphone sangat mudah merusak retina mata. Apalagi dengan posisi
tiduran saat memainkannya. Keempat
adalah kemampuan bersosialisasi kurang, kebiasaan anak yang menghabiskan
waktunya lebih banyak untuk bermain smartphone akan lebih susah dalam
bersosialisasi. Hal ini dikarenakan sang anak jarang berinteraksi dengan
orang-orang yang dia temui. Kebanyakan dari mereka akan jarang berbicara,
karena mereka lebih terfokus dengan smartphone nya. Kelima adalah anak jadi kecanduan, hebatnya dari benda ini
adalah seperti "magnet" yang apabila orang memainkannya akan susah
untuk berhenti. Hal ini yang menjadikan anak-anak kecanduan dengan smartphone,
sehingga mereka tak mau lepas dengan benda yang satu ini. Dampak yang terakhir adalah terkena
radiasi, ini adalah hal yang
paling buruk dari yang lain. Karena sinar radiasi smartphone mampu merusak
jaringan otak yang dapat menyebabkan kanker otak.
Untuk
itu, bagi Anda yang berperan sebagai orang tua, mengingat resiko-resiko yang bisa terjadi
ini, orangtua mesti berpikir lebih bijak sebelum memperkenalkan gadget kepada
anak-anaknya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, pada usia berapa idealnya
orang tua mengizinkan anak-anaknya menggunakan gadget?
Banyak
literatur yang mengungkapkan pemakaian gadget baru diperkenankan pada anak yang
berusia 10-13 tahun. Ada juga yang memberi rekomendasi usia dibawahnya. Dr.
Ahmad Suryawan pada website mutiara-hati.com mengatakan bahwa jika ingin memberikan
gadget pada anak, sebaiknya orang tua melakukannya pada saat anak sudah berusia
di atas 6 tahun, karena pada saat itu perkembangan anatomi otak anak sudah 95%
dari otak dewasa. Untuk usia dibawahnya misalnya pada anak berumur 2-3 tahun,
memperkenalkan gadget boleh saja tetapi sebatas memperkenalkan pada bentuk,
warna atau suara yang dihasilkannya, ini untuk merangsang kemampuan visual dan
pendengaran anak.
Selanjutnya,
untuk anak yang sudah diperkenankan menggunakan gadget, orang tua harus memainkan
peran sebagai pengawas. Untuk mencegah kecanduan, anak-anak harus diberi batas
waktu berapa lama harus menggunakan gadget setiap harinya.
Untuk
gadget pada anak yang doyan bermain game, hindari menginstal aplikasi games
yang mengandung unsur kekerasan. Apa yang dimainkan anak pada game tersebut
diserap oleh anak dan cenderung akan dipraktekkan di dalam kehidupan nyatanya.
Filterlah aplikasi-aplikasi yang akan diakses oleh anak. Dampingilah anak jika
harus menjelajah internet, agar anak tidak sampai menelusuri situs bertema
pornografi atau kekerasan.

